Kegiatan Dan Keseharianku Di Rumah

3 min read

Assalamualikum Wr, Wb.

Sebelumnya perkenalkan saya Ali Jakfar. Saya ingin menceritakan sedikit kisah tentang saya, di suatu desa yang penuh cerita, penuh canda tawa dan penuh kenangan yang tak mungkin terlupa.

“Karena masa lalu bukan untuk di buang tapi untuk di kenang. Meski sebagian orang memilih membuang, tapi aku tetap tak ingin itu hilang”

“Karena masa lalu bukan hanya kenangan, tapi juga waktu berharga yang tak bisa di ulang.”

Terkecuali DIA yang Maha Kuasa.

Bangun Tidur

Cangkarman, Kabupaten Sampang Madura, Jawa Timur. Desa kecil tempat aku tinggal terlahir dari keluarga yang bisa dibilang menengah ke bawah.

Anak dari seorang petani, dan mempunyai 7 saudari perempuan.

Setiap pagi biasanya saya sering bangun terlambat, terkadang sampai di omelin agar bangun untuk sholat subuh. Biasanya setelah pagi terkadang saya tidur lagi, terkadang juga nonton tv.

Terkadang jika musim kemarau tiba, setiap pagi biasanya saya mengambil air mandi, di sumur salah seorang warga di desa saya.

Tempatnya dua kilometer dari rumah saya, biasanya saya menggunakan gerobak dengan 8 drigen diatasnya. Rute kesanapun bisa di bilang tidak enak karena terdapat tanjakan dan beberapa lubang yang lumayan besar.

Terkadang jika air mandi kami lagi banyak, saya pergi ke sawah untuk menyiram tanaman tembakau kami, dengan menggunakan Gembor sejenis alat yang digunakan para petani tembakau di desa kami.

Sebaliknya jika di musim hujan, biasanya setiap setelah sarapan pagi, saya pergi ke sawah untuk mencabut hama rumput pada tanaman padi kami.

Sarapan Pagi

Saya selalu ingat, momen – momen penting di setiap sarapan pagi bersama keluarga besar kami.

Meskipun makan dengan lauk seadanya, tapi di situlah letak kenikmatan yang sesungguhnya. Ketika bisa berkumpul dan makan bersama, rasanya tiada tara.

Dan menurut saya suasana yang paling nikmat saat makan itu, saat makan di sawah kami. Waduuh pokoknya rasanya tiada tara.

Suasana persawahan yang hijau, tidak tau kenapa membuat selera makan saya menjadi lebih nikmat. Ayahku juga berkata memang saat makan di sawah itu lebih nikmat dari pada di rumah sendiri.

Membantu Orangtua

 

Sedari kecilpun saya di ajarkan agar menjadi anak yang mandiri dan tidak manja.

Kami terdidik sebagai anak yang harus tau rasanya jadi orang susah dahulu, sebelum nantinya menjadi orang sukses di kemudian hari.

Keseharian saya di rumah, waktu beranjak dewasa saat masuk smp saya sudah mulai membantu ayah dari mulai urusan bertani, memberi makan ternak, dan juga sesekali ikut ke laut jika ayah sedang pergi mencari ikan.

Biasanya ayah pergi mencari ikan saat musimnya saja. Hasilnyapun kami jual dan sebagian untuk kami jadikan lauk makan kami.

Selain menjadi petani padi, ayahku juga sebagai petani garam. Ladang garam tersebut bukan milik kami sendiri, melainkan milik orang lain yang mungkin tidak ada waktu untuk mengurusnya.

Terkadang saya ikut membantu beliau saat proses pembuatan garam dan saat proses penen garam.

Selain kegiatan itu saya juga yang bertugas menggiling padi jika persediaan beras kami sudah habis.

Memberi Makan Ternak

Selain kegiatan tadi saya juga membantu mengurus hewan ternak kami. Mulai dari memberi makan, minum, dan menjaga kandang ternak kami tetap bersih.

Biasanya saya mencari makan ternak di pinggir jalan sekitar desa kami, terkadang juga mencari rumput liar di ladang kami.

Bertani

Saat musim hujan biasanya kami menanam padi, mulai dari membantu menanam padi merawat sampai mencabut rumput liar yang menjadi hama tanaman padi kami.

Saat panen pun saya juga membantu mereka, mulai dari saat memotong padi, dari awal sampai selesai.

Begitu juga saat musim kemarau, setiap pagi sebelum sarapamn pagi bahka ketika bulan puasa terkadang setelah sahur dengan memabawa senter.

Karena saat itu masih gelap, jadi supaya saya bisa melihat mana tembakau yang udah di siram dengan tembakau yang belum di siram.

Bukan hanya itu selain bertani padi ayaku juga bertani garam. Beliau mendapat amanah dari temannya untuk mengurus ltambak garam.

Setiap seminggu sekali biasanya panen, dan hasil penjualannya kami bagi dua dengan pemilik tambak tersebut.

Jika saya sedang libur sekolah, biasanya saya kesana menemani ayah untuk menjaga air supaya cepat mengkristal menjadi garam.

Mengambil Air Minum & Mandi

Ya sepeti yang jelaskan tadi. Saya mengambil air hanya saat musim kmarau saja, yakni ketika sumur keluarga kami kering.

Jika sudah kering itu tandanya tugasku sudah dimlai hehe. Bukan hanya aku saja yang mengambil air di sumur itu tapi sebagian warga desa yang tak mampu membeli air, juga ikut mengambil air disana.

Rute kesana lumayan jauh dan sulit saya biasanya sendiri, namun terkadang bersama teman sekaligus tetanggaku Rohman.

Di situ kami balapan, tentunya bukan balapan motor tapi balapan Geledek kendaraan sejenis gerobak yang biasanya digunakan saya untuk mengambil air.

Waktunya Bermain

Nah ini bagian paling menyenangkan, ktika saya SMP setiap sore saya tidak pernah melewatkan hobi saya, yakni bermain bola.

Hampir setiap hari saya bermain sepakbola di lapangan kampung saya, hanya di hari hari tertentusaja saya tidak bermain.

Seperti ada kegiatan di rumah dan kepentingan lain yang tidak bsa saya tinggalkan.

Setelah beranjak SMK, mulai mengikuti klub sepakbola profesional. Yakni Ssb Gulbung salah satu sekolah sepakbola yang lumayan besar di kota saya.

Saya latihan seminggu sekali setiap hari kamis sore.

Selain sepakbola saya juga ikut tim futsal kampung saya, kami latihan setiap hari senin malam. Ya seperti itulah kegiatan bermain saya hampir setiap hari saya bermain sepakbola yang merupakan hobi saya.

Kegiatan Menjelang Tidur

Setiap malam biasanya saya bermain bersama kedua ponakan kecil saya, Mereka sangat akrab dengan saya.

Setelah puas bermain denganku biasanya mereka langsung pergi untuk tidur, nah setelah mereka tidur aku langsung pergi ke tempat biasa aku berkumpul bersama teman yang lain.

Kami nongkrong sambil bercanda gurau disana, sesekali kami bermain game bersama. Dan saking serunya kami hingga lupa waktu terkadang hingga larut malam.

Ya sekitar jam satu malam biasnya kami pulang ke rumah masing – masing. Setelah di rumah aku biasanya langsung tidur.

Aku tidak mempunyai kamar tidur sendiri, melainkan tidur di langgar atau musholla yang terbuat dari kayu, disitu terkadang aku tidur sendiri, terkadang juga ditemani salah seorang tetanggaku.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan apa yang sebenarnya kita dapatkan dari hidup ini. Bukankah kita datang ke dunia dalam kondisi telanjang?

Bukankah kita meninggalkan dunia ini hanya dengan membawa selembar kain putih? Jadi, hanya itukah keuntungan yang kita peroleh sepanjang hidup di dunia?

Demikian cerita singkat tentang saya. Jangan lupa bersyukur, jangan lupa bahagia. Jika ada salah kata ataupun penulisan saya mohon maaf, karena maklum manusia tempatnya salah dan lupa.

“Karena hidup untuk di jalani bukan untuk dipikirkan”

Demikian dari saya, Assalamualaikum Wr Wb…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *